Selasa, 22 Juli 2014

Israil pamer pesawat anti rudal MH17 hancur

Dengan jatuhnya pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur akibat tembakan rudal menunjukkan pesawat komersial masih minim perlindungan untuk seluruh penumpang dan awak di dalamnya. Padahal sebenarnya sudah ada sistem perlindungan pesawat, seperti yang digunakan Israel dengan nama Sky Shield.

Dikutip dari Fox News, Ahad, 20 Juli 2014, Sky Shield adalah sistem perlindungan pesawat yang dikembangkan Israel yang bisa melindungi pesawat jenis Boeing. Dalam sebuah uji coba, para pejabat mengklaim Sky Shield efektif melindungi EI Airlines Boieng 737 dari lima tembakan rudal.

“Sistem Sky Shield, dengan menggunakan teknologi laser yang bisa mengalihkan rudal yang ditembakkan pesawat dari lintasan udara, telah dipilih oleh Kementerian Perhubungan Israel untuk melindungi penerbangan pesawat. Rangkaian tes membuktikan Sky Shield bisa melindungi pesawat dan seluruh isinya,” kata Kementerian Pertahanan Israel dalam pernyataan setelah sukses melakukan tes awal tahun ini.

Adapun perlindungan seperti ini juga digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat dengan sistem Large Aircraft Infrared Counter-Measure (LAIRCM). Dengan sistem tersebut, pesawat kargo berukuran jumbo-jet dan tanker udara juga bisa dilindungi dari misil.

Air Force One, hasil modifikasi dari Boeing 747, merupakan salah satu pesawat yang dilengkapi teknologi ini. Namun, selain Air Force One, belum ada pesawat lain yang menggunakan sistem ini.

“Sistem ini bukanlah seperti ‘tongkat ajaib’. Tapi ide untuk melindungi pesawat dengan sistem itu perlu ditelaah kembali,” ujar Jim Walsh, Direktur Program Studi Keamanan di Massachusetts Institute of Technology.

Selain itu, tutur Walsh, dibutuhkan biaya yang fantastis untuk bisa memasangkan teknologi LAIRCM. Untuk satu pesawat komersial atau jet dari serangan (Man-Portable Air Defense System) atau salah satu senjata antipesawat terbang, misalnya, dibutuhkan dana sekitar US$ 1 juta hingga US$ 4 miliar.

Northrop Grumma–perusahaan teknologi pertahanan pesawat–juga mengembangkan sistem penolak rudal dengan sebutan The Guardian. Teknologi ini telah dipasangkan pada pesawat penumpang Boeing MD-11.

“Sistem The Guardian menyediakan perlindungan 360 derajat untuk pesawat dari ancaman rudal. Ketika The Guardian mendeteksi peluncurkan MANPADS, alat itu akan menggunakan sinar laser untuk mengacaukan arah rudal. Seluruh proses terjadi dalam waktu dua-lima detik dan tanpa kerja dari awak pesawat atau pilot,” kata perusahaan.

Pemerintah Aceh harus menjelaskan status TRA pada masyarakat.

PIDIE- Gubernur Aceh,dr H Zaini Abdullah, didampingi Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Drs Ghazali Mohd Syam, Kadis Syariat Islam Aceh Prof, Syafrizal Abbas, berkunjung ke Laweung, Muara Tiga, Pidie, pada Minggu (20/7/2014) siang, dua hari pasca insiden bentrokan dan kerusuhan warga Blang Raya, Laweung dengan aktivis Tim Relawan Aceh (TRA) yang menyebabkan 14 orang terluka parah, tiga mobil dan lima sepeda motor dibakar warga.

Kedatangan Gubernur untuk memantau langsung kondisi terkini di kawasan bergolak itu. Ia beserta rombongan disambut Wakil Bupati Pidie M.Iriawan beserta jajaran Muspida, turut hadir pula Ketua MPU Kab. Pidie dan Sekcam Muara Tiga, Saifullah Arbi.
Wakil Bupati Pidie M.Iriawan mengucapkan terima kasih kepada Gubernur yang telah menunjukan rasa simpatinya yang mendalam.
Dikatakan Iriawan, insiden itu secara psikologis berdampak di tengah-tengah masyarakat.

“Dan Pemkab Pidie sudah membentuk tim terpadu, berupaya untuk memberikan rasa nyaman dan mencari solusi untuk penyelesaian kasus ini,” ujar Wabup Iriawan, dalam sambutannya, saat pertemuan tatap muka dengan tokoh masyarakat setempat usai meninjau sebuah rumah warga yang terbakar dalam insiden berdarah itu.

Ditambahkan, tim terpadu nantinya akan berkordinasi dengan Pemerintah Aceh untuk memberikan penjelasan secara utuh dan klarifikasi kepada masyarakat terkait motif dan kejelasan status TRA.

Gubernur Zaini Abdullah menyesalkan terjadinya insiden yang sangat meresahkan masyarakat danmenodai kesucian bulan Ramadhan itu.

Harapnya, semua pihak bisa mengambil hikmah atas kejadian yang tidak diinginkan itu.

“Jangan sampai kejadian seperti itu terulang lagi di bumi Serambi Mekkah ini,”tegasnya.

Gubernur juga mengimbau para pihak tidak melakukan aksi balas dendam karena tindakan itu justru akan melahirkan persoalan baru.

“Tugas kita semua mulai hari ini adalah menjaga ukhuwah islamiah dan menahan nafsu amarah. Saya minta masyarakat jangan mudah terprovokasi. Pengalaman masa konflik dulu dan musibah Tsunami sudah cukup bagikita sebagai pelajaran yang paling berharga,” kata Gubernur.